Laman

Minggu, 06 November 2011

SIFAT –SIFAT DASAR ILMU PENGETAHUAN

Hakekat hidup manusia adalah bagaimana bisa belajar menemukan kebahagiaan hakiki

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
            Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembanggakan pengetahuan secara sungguh sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahaun ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya
            Manusia mengembangkan pengetahuan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini dia memikirkan hal-hal yang baru karena dia hidup buka sekedar untuk kelangsungan hidup namun lebih dari itu.manusia mengembangkan kebudayaan,manusia memberi makna kepada kehidupan manusia ‘memanusiakan diri dalam hidupnya’ dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini ,semua itu pada hakekatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari sekedar kelangsunagn hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas dimuka bumi ini.
            Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia yang disebabkan dua hal utama yakni pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomununikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Kedua yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan dengan cepat dan mantap adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.
            Dalam pembahasanini terdapat landasan teori yaitu Episteomologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahua yang dimiliki.
            Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan mengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Para filosof pra sokrates, yaitu filosof pertama didalam tradisi barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini disebabkan mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahannya, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.
            Mereka mengandaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenal kodrat itu mungkin, meskipun beberapa diantara mereka menyarankan bahwa pengetauan mengenal struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu ketimbang sumber-sumber lainnya. Herakleitus, misalnya menekan kan penggunan indera, sementara Parmenides menekankan penggunaan akal. Meskipun demikian, tak seorang pnun diantara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (realitas)1.
            Akan tetapi, dalam perkembngannya ilmu pengetahuan memiliki sifat dasar yang kurang dipahami dan diketahui padahal itu merupakan sangan urgen. Oleh karena itu penulis ingin membahas sifat dasar ilmu pengetahuan.
.
B.      Rumusan Masalah
            Berdasarakan latarbelakang di atas dapat dirumuskan rumusan maslah dalam makala ini yaitu :
            Apa sifat-sifat dasar ilmu pengetahuan?

C.    Tujuan dan Kegunaan
      Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah:
Untuk mengetahui sifat-sifat dasar ilmu pengetahuan
      Sedangkan kegunaan yang dapat diambil makalah ini yaitu :
1.      Untuk penulis sendiri, agar menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan
2.      Untuk dosen, menjadi referensi dalam pengajaran mata kuliah Filsafat Ilmu.
3.      Untuk para mahasiswa, menjadi bahan diskusi dalam mata kuliah filsafat ilmu dan membantu memahaminya.
4.      Untuk masayarakat, menjadi pengembang bahan ajar serta penambahan pemahaman Filsafat.










BAB II
PEMBAHASAN

Sifat Dasar Ilmu Pengetahuan

A.    Penalaran
            Ilmu pengetahuan bersifat penalaran yang mendasar, karena penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakekatnya merupakan makhluk yang berfikir merasa bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berfikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan meskipun dikatakan paskal ,hati pun mempunyai logika tersendiri .meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berfikir menyadarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai criteria tertentu dalam menemukan kebenaran.
            Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika atau tiap bentuk penalaran mempunyai logika tersendiri .atau juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupaka suatu proses berpikir logis dimana berpikir logis disini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu .
            Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses bepikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyadarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang menyadarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Artinya penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah dan demikian juga penalaran lainya yang mempergunakan logikanya tersendiri pula.
B.     Logika
            Sifat dasar ilmu pengetahauan adalah bersifat sesuai logika. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penariakan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarika kesimpulan ini disebut logika di mana logika secara luas dapat di defenisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sohih. Terdapat bermacam–macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah,kita akan melakukan penelaahan yang saksama hanya terhadap dua jenis cara penariakan kesimpulan yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus–kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain ,kita mempunyai logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual/khusus.
            Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat individual. Penalaran secara induktif di mulai dengan mengemukakan pernyataan–pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhir dengan pernyataan yang bersifat umum.katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai mata, Gajah mempunyai mata,demikian juga singa ,kucing dan berbagai binatang lainnya.
            Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalara induktif. Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditari kesimpulan yang bersifat khusus.penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya memperguanakan pola berfikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
C.    Sumber Pengetahuan.
            Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat. Dari situ timbul kesimpulan dasar ilmu pengetahuan adalah memiliki sumber yang jelas. Pengetahuan yang ada pada kita peroleh dengan menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuaan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa tentang sumber pengetahuan antara lain:
1.      Empiris
            Kata ini berasal dari kata yunani empeirkos artinya pengalaman menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila di kembaliakan kepada kata yunaninya pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman indrawi
            Dengan inderanya manusia dapat mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik dan termasuk ke dalam medan intensional,walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-materal.
            Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lainnya,berhubungan dengan sifat khasnya fisiologis indera dan dengan objek yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing-masing indera menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Jadi pengetahaun inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu.
2.      Rasionalisme
            Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
            Bagi aliran ini keliruan pada empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat di koreksi ,seandaianya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan–bahan yang menyebabakan akal dapat bekerja tetapi sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas bahkan ini memungkinkan dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan tersebut sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi fungsi panca indera hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akalnya menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.
            Dalam penyusunan ini akal menggunaka konsep–konsep rasional atau ide-ide universal. Konsep tersebut mempungai wujud dalam alam nyata dan bersifat universal. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip universal adalah abstraksi dari benda-benda kongkret, seperti hukum kausalistas atau gambaran umum tentang kursi. Sebaliknya bagi empirisme hukumtersebut tidak diakui.
3.      Intuisi
            Menurut Henry bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi perbedaan dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini intuisi memerlukan suatu usaha. Ia jua mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung,yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi.
            Menurut, intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis ,yang pada dasarnya bersifat analisis, menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis. Karena itu,intuisi adalah saran unttuk mengetahui secara langsunga dan seketika. Analistis atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi .
            Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramaikan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuisi dapat di pergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya penyataan yang dikemukakan. Kegiatan intuisi dan analisis bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.bagi niectzchen intuisi merupakan ‘intelegensi yang paling tinggi ‘dan bagi maslow intuisdi merupakan ‘pengalaman puncak’.
4.      Wahyu
            Wahyu adalah pengetahuan yang disampaika oleh Allah kepada umat manusia lewat manusia lewat perantaraan para nabi. Para Nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta. Tuhan mensuciakn jiwa mereka dan diteranggkan –Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.
            Pengetahuan dengan jalan ini merupakan kekhususan para Nabi. Hal inilah yang membedakan mereka dengan manusia lainnya. Akal menyakinkan bahwa kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan , karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya, karena hal itu ada jalan lain kecuali menerima dan membenarkan semua yang berasal dari Nabi.
D.    Kriteria Kebenaran
            Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi yang lain. Karena itu kegiatan berpikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar atau criteria kebenaran pada setiap jenis pengetahuan tidak sama criteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda. Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Alam fisik pun memiliki perbedaan ukuran kebenaran bagi setiap jenis dan bidang pengetahuan.
            Secara umum orng merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja. Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemology terhadap kebenaran membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan kan adanya tiga jenis kebenaran yaitu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran sematis. Kebenaran episteologis adalah kebanaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologism adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Kebenaran dalam arti sementis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa.
            Dalam buku fiksafat ilmu karya Prof Amsal Bakhtiar disebutkan pembahasan kebenaran epistemologis ada beberapa teori yaitu:
1.      Teori korepondensi
Menurut teori ini kebenaran itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
2.      Terori pragmatism tentang kebenaran
Teori prgmatisme tentang kebenaran adalah suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia 
3.      Agama sebagai teori kebenaran   
Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia maupun tentang Tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari tuhan.




BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
      Jadi dapat kita simpulkan dari pembahasan diatas adalah :
1.      Penalaran
2.      Logika
3.      Sumber Pengetahuan
4.      Kriteria kebenaran
B.     Saran
Perlu ditingkatkan pembahasan tetang Alquran dan hadis menurut salafu soleh dalam mata kulah Filsafat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silakan komentar