Pages

Saturday, 24 December 2011

DINGINNYA CINTA, PANTAI LOSARI



 pengantar : banyak orang ku temui. banyak cerita kudapat lalu salah satunya kutoreh melalui kertas dan ku postingkannya
Hembusan anging mammiri menerpaku bersama dinginnya losari malam. Segalanya terasa membeku di satu titik pada detik ini. Menit ini. Jam ini. Malam ini. Aku menyandarkan punggungku pada huruf L besar , dimana kurasakan seakan kebekuannya pada cuaca dingin d musim hujan ini dengan mudah menembus kulit jasku. Cahaya lampu jalan dibawah hanya berupa kilas-kilas buram dalam pandangku yang memanas, memanas oleh sesuatu yang kutahan-tahan.

Tidak ada jawaban yang tepat untuk itu, bukan begitu…? Sebab cinta yang sungguh cinta tidak pernah memerlukan alasan.

Aku mengingat hari itu. Hari itu, untuk pertama kalinya aku menangis tanpa air mata.

Disini. Disaksikan hamparan mata bintang di atas takhta langit yang dingin, aku menatap punggungmu yang menjauh; mengulum kembali semua kata yang untuk sekejap lalu nyaris keluar dari bibirku. Kata-kata yang kaupatahkan dalam sekejap, ketika kau menoleh, tersenyum dengan sinar mata yang sama seperti sebelumnya, dengan balutan kehangatan yang selalu terpancarkan darinya kala kau berhadapan denganku…

Kemudian kau berkata, “Aku akan ke Madina”

“Madinah…?” tanyaku aku tak tahu maksud pembicaraannya

“Aku dapat beasiswa untuk belajar disana” dengan mata yang terpancar terbinar-binar andai aku juga dapat.

“…benarkah?” tanyaku mengerjap beberapa saat kemudian. Aku tahu itu yang memang yang ingin di cita-citakan semenjak ia telah berubah dan bibirku secara otomatis memulas sebuah senyuman, meski aku tak berani memastikan seperti apa rupanya. Sebab meskipun aku tersenyum, kelu yang datang, bukannya hangat. Kosong, nyaris menggigil.

“Ya,” jawabmu mengangguk. Di titik ini, kau tak lagi tersenyum. Kau memandangku, dengan tatapan lurus lalu menunduk seakan ada yang mengganjal. Mungkin ada yang tak bisa kuterjemahkan ke dalam kata-kata, sekalipun membuat hatiku berontak menjerit. Aku bergetar, tak pernah kubayangkan perasaan seperti ini sebelumnya. Panik, sakit, takut, tak berdaya… Kata-kata yang sebenarnya hendak kuucapkan serasa diujung lidah…

…tapi tetap saja aku tak punya kesanggupan menyampaikannya…

“Selamat ya…” Debar jantungku mencelos ketika kudengar kata itu diucapkan sendiri oleh bibirku. Aku membuang pandang menekuri lantai, tak sanggup menemui matamu yang seakan bertanya. Bukan, bukan bertanya… Aku tahu, jauh dalam hati, kau tidak bertanya. Kau menunggu. Sama sepertiku, menunggu kata-kata itu kuucapkan…

“Terima… kasih…” katamu terdengar pelan dalam pendengaranku, tenggelam bersama gemuruh angin mammiri. Hembusan anging mammiri seolah membawa pergi seluruh udaraku begitu keheningan merambat di antara kita yang saling membisu. Kenapa…?

Aku menerawang mengingat kembali awal kamu berubah..

Kau, bintang yang paling berkilauan di mataku semenjak pertama kali kita berjumpa. Pagi itu, dalam benakku tergambar lebih segar dari sebelum-sebelumnya; ketika berkenalan di suatu hari yang terik... cahaya matahari menyusup melalui bingkai-bingkai jendela sekolah, tak ada yang berbeda pada waktu itu. Selayaknya remaja seusia kami pada waktu itu.

“Disini saja,” katamu ramah, tampak geli memergoki kesegananku. Aku tertegun sejenak, agak dibuat terkesima oleh kehangatan yang terpancar dari kedua bola matamu.

Mungkin kesan pertamaku tentangmu sudah lebih dari sekedar baik. Aku balas nyengir, duduk, lalu mengulurkan tanganku. “Affifah” tukasku mengenalkan diri.

“Zulkifli,” katamu, menjawab uluran tanganku, tersenyum. “Cukup panggil Zul saja.”

Begitulah, dan aku mendapati diriku tak kunjung melepaskan tatapan mataku dari sosokmu malam itu, orang pertama yang benar-benar menyapaku, ketika semua orang sibuk tertawa-tawa meramaikan suasana MOS, perkenalan siswa baru SMA yang dirancang sendiri oleh pengurus OSIS. Sesekali kau mendapatiku, kemudian mengajakku bicara atau sekedar membalas tertawa…

Entah sejak kapan...

Zul, sahabatku. Aku menyukaimu, aku sadar dan pasti akan hal itu. Begitu saja. Segalanya mengalir, aku dan kau selalu tahu. Kita selalu tahu… 

Jauh dalam hati kita bukan sekedar teman. 

Dan aku juga tak pernah cukup berani untuk mengungkapkannya. Kupikir, biasanya yang mengungkapkan perasaan itu cowok, memang seperti itulah. Namun, pada perputaran waktu maju dimana hanya penyiksaan datang dalam hatiku. Kadang aku berfikir untuk menaruh tambatan hatiku selain dirimu, tapi mungkin terlanjur dihatiku sudah ada sosokmu, aku tak dapat melakukannya. Pikiranku terus berkembang sampai menganggapmu mungkin belum dewasa…, (homo, sok alim, jadul, ngak gaul dll). Aku pun pemberani diri mengungkapkannya. Ketika itu tanpa sadar lidah ku mengatakannya di hadapanmu. Namun engkau hanya diam saja, aku hanya menunduk menanti jawabamu. Tapi engkau hanya diam… entah apa yang kau pikirkan. Setelah kejadian itu engkau masih seperti biasa. Seperti tak terjadi sesuatu antara kita berdua.

Meski setiap kali kutangkap kemilau di matamu, kadang kala berbeda bila bertemu denganku. Hingga datang waktu yang mempertegas hubungan kita. Yang ternyata memang ada sesuatu di hati kita berdua. Saat itu.. ketika kelas 3 SMA….

“Saya tidak bisa meneruskan hubungan kita, Afifah… Kita akhiri sampai di sini saja…..,” ujar Zul padaku yang waktu itu benar-benar tak terencana pertemuan itu. Ada rasa kaget bercampur sedih dan senang. Senang karena selama ini engkau masih menggapku ada sebagai pacar yang selama ini takku tahui. Tapi sedih karena engkau ingin mengakhirinya

 “Tapi.., kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Zul…” jawabku seolah-olah aku menyadari hubungan yang selama ini yang kukira hanya sahabat ternyata dianggap pacaran… atau ia menggap lain hubungan ini… Entahlah? “Maafkan saya, Afifah… tetapi saya bukanlah Zul yang dulu lagi. Saya sudah memikirkan ini masak-masak, saya ingin berubah…” 

Aku dan engkau duduk berdua di pinggir lapangan basket SMA. Kita saling terdiam beberapa saat dan memandangi pintu gerbang Sekolah yang sudah mulai sepi. Langit berwarna merah. Aku menangkap sekilas wajahmu yang teduh dan rambut lurusmu tertiup angin mammiri yang sepoi-sepoi. Azan Maghrib berkumandang. Kulihat engkau tersigap, bangkit dari dudukmu dan berkata, “Sudah azan, saya mau shalat. Shalat yuk.., Afifah…,” ajak Zul. Kata zul itu menghentikan tatapanku, lalu spontan memandangmu kembali dengan tatapan penuh keheranan…dan bertanya-tanya dalam hati.. sejak kapan zul, rajin shalat? Bukankah ia sendiri yang sering mengatakan tak suka dengan anak-anak rohis…… 

“Duluan miki, Afifah nanti menyusul,” jawabku terbata-bata. Aku dan zul sekilas saling berpandangan,. Seakan banyak isi hati yang terucapkan lewat tatapan mata kami. Zul berbalik menuju ke mesjid sekolah. Hatiku bergemuruh, tiba-tiba aku juga dengan pelan mengikutinya dari belakang entah apa yang Aku pikirkan waktu itu. Sesekaliku lihat punggungmu dari belakang yang membawa tas ransel dan menuju masjid sekolah. Qomat berkumandang dari masjid sekolah. Ini pertama kalinya Shalat dalam suasana hati yang galau. Dalam Shalatku air mata mengalir di pipiku  yang telah kemerah-merahan.
Hingga malam ini, engkau memanggilku bertemu setelah kejadian itu baru pertama kali engkau menghubungi ku. Kusadari ternyata selam ini engkau masih menganggapku sebagai seorang sahabat.
Dan kita tertegun hingga akhir. Aku dan kau. Hingga kabut dingin melarutkan punggungmu, lenyap dalam bilur-bilur malam. Kau lelah menunggu dalam diam, begitu pula aku.
menghilang tak bersisa…

Kau tahu, beban ini… Aku pernah bermimpi untuk melepasnya dengan cara yang berbeda.

Hari itu cerah di bandara, langkah-langkahmu menuju bandara dan senyum kecilmu di kala puluhan pasang mata keluargamu tersenyum mengiri kepergianmu. Barangkali adalah pemandangan yang akan kusimpan dalam memori seumur hidupku. Kini kepada langit yang pasti tak menjawab, ingin kuceritakan betapa menyilaukannya kau terlihat dalam baju rapi dan jas mu serta koper yang engkau pegang bersiap menuju bandara. Lagi dan lagi… aku menghadiahkanmu sebuah senyuman mencoba mengikhlaskanmu pergi. Lagi-lagi Tak peduli seberapa pedih, dan aku terpaksa melambaikan tanganku.

Maafkan aku telah menggangu hidup mu.

…maafkan aku.

Kenapa aku harus jatuh cinta kepadamu…?

Sampai kini adalah pertanyaan yang tak sanggup kujawab. Dan sekalipun di suatu waktu nanti, ada masanya aku akan kembali berjumpa, entah dibawah hujan deras ataupun dalam naungan terik mentari… Saat ini hanya gelap terlihat, hanya dingin tergenggam dalam cintaku.

Ku tatap indahnya pantai losari dan hamparan mata bintang diatas takhta langit yang dingin, aku mencari… Menyelidik rasa-rasa tersisa... Angan-angan yang tersia… Kemudian menyembunyikannya di balik salah satu kemilaunya langit malam.

Kuharap kau selalu bahagia…

3 comments:

  1. kata2 puitis semua,,,

    betul2 galau

    ReplyDelete
  2. nice story .....kalau jodoh takkan kemana, nyata kah crita ini ??

    ReplyDelete

silakan komentar